Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Ambisi Adalah Hal yang Menakutkan

Manusia memang terlahir penuh keserakahan. Dan memang harus serakah atau tidak tumbuh sama sekali, tetapi jangan sampai keserakahan itu melahap dirimu sendiri. Kita semua tahu bahwa manusia terlahir dengan keserakahan, tapi mungkin sebenarnya kita membutuhkannya untuk terus menjadi diri kita yang baru, untuk mendapatkan hal baru, untuk terus bertumbuh. Akan tetapi seringkali kita lupa bahwa keserakahan itu mampu melahap diri sendiri, meniadakan kewarasan dari otak yang tak berhenti mendambakan wahyu baru. Saat itu membuka pintu terasa seperti akan melewati gerbang antara hidup dan mati. Di saat aku kehilangan diri karena lenyap dibabat habis oleh keserakahan. Berlari terus berlari hingga kewarasanku melepaskan diri. Aku lupa cara untuk sejenak menepi. Lantas berakhir mati. Untuk beberapa waktu aku tidak lagi merasakan hidup, aku tidak ingin melakukan apapun, aku tidak bisa tidur, kepalaku sakit setiap pagi, tapi senyumku tidak pernah memudar saat bertemu yang lain sekalipun tak ada kes...

Aku Ini Binatang Jalang / Aku Ini, Binatang Jalang

Semakin lama orang-orang tampak semakin berbeda. Lantas lambat laun aku mulai terasa terasingkan dari orang-orang ini, baik di keluarga besarku atau di lingkunganku. Aku terasa tidak selaras lagi dengan bagaimana  mereka berpikir. Hal ini cukup mengganggu, aku terganggu dengan rasa 'berbeda' yang muncul di saat kita semua adalah manusia. Bukan rasa berbeda yang sama jenisnya dengan yang kurasa saat di SLBN Panggungsari, rasa berbeda yang ini lebih menyedihkan, bukan rasa bersalah tapi sendirian. Kata kawanku; tak apa untuk merasa seperti ini beberapa saat, tak apa untuk merasa berbeda. Rasanya tidak tenang untuk saat itu.  Puisi Aku, karya Chairil Anwar, kata kawanku yang sama dengan yang mengatakan hal di atas; "Kenapa pilih Aku, mainstream ga sih?" Sangat banyak orang yang tahu. Tapi kembali pada diriku, puisi ini mengandung nada berbeda mengandung sebuah rasa bangga akan beda yang aku miliki.  Aku ini binatang jalang / dari kumpulannya terbuang Bagiku, bagian i...

Bendera Putih

 Hari ini aku tidak mampu berpikir untuk menulis blog ini karena kepalaku sakit bukan kepalang. Peraturan-peraturan, informasi, kegiatan baru yang tiba-tiba datang membuat kepalaku rasanya ingin meledak. Jadi ini saja untuk hari ini

Aku Ingin Mencintaimu Saat Aku Meminum Sampanye

Siapa yang tak mengenal Sapardi Djoko Damono (SDD). Namanya mentereng di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia, sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Bersama dengan puisi-puisinya yang acapkali meminta dimaknai, atau diteruskan frasanya yang tak lengkap. Siapa pula yang tak tahu kalimat; "Tiada yang lebih tabah dari hujan bulan juni," satu penggalan puisi dari sekian puisinya yang entah bagaimana dulu bisa muncul dalam benak sang maestro, kini mengabadikan namanya. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan kata yang tak sempat diucapkan / kayu kepada api yang menjadikannya abu // Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan isyarat yang tak sempat disampaikan / awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Aku Ingin , salah satu puisi SDD yang dikenal banyak orang, entah sejak kapan diam-diam menetap di dasar hatiku. Sama seperti keinginan aku untuk mencintai dengan sederhana, puisi ini juga sederhana. Joko Pinurbo (Jokpin) dalam acara bincang-bincang bersama SDD...

Hantu Kucing Hitam

Sejak kecil aku takut pada kucing. Makhluk berbulu, berkaki empat dengan mata yang terkadang seperti reptil hendak memakanku hidup-hidup. Aku takut bukan kepalang melihat sosoknya muncul di balik pintu ketika bangun tidur. Besar, berbulu, berkaki empat, dan menatapku dengan mata gelapnya. Seakan aku akan menghilang ditelan kegelapan itu, aku menangis histeris, berteriak meminta pertolongan dari tatapan mata makhluk berbulu, berkaki empat itu. Seringkali aku ditertawai karena ketakutanku pada seekor kucing, yang jika dipikirkan memang tidak pernah tahu dari mana semua ketakutan pada kucing itu berasal. Aku tidak hanya takut pada cakarnya, suara mengeongnya pada malam hari terdengar seperti rintihan setan yang siap menyergapku dengan mata yang menyala di kegelapan, atau terkadang seperti tawa menggelegar yang menertawaiku karena takut pada mereka. Aku duduk di bangku SD kalau tidak salah ingat. Ketika keseharianku acapkali dihantui sosok kucing hitam, yang entah khayal saja atau memang a...

Jaring Laba-Laba dan Tawon Sarang Lumpur

Kebanyakan laba-laba membuat jaringnya dalam satu malam tanpa beristirahat untuk nantinya dijadikan tempat bersarang, menangkap mangsa, atau meletakkan calon anak-anaknya. Kalau tidak salah aku sedang berkemah di SMAN 2 Trenggalek, ketika ingatanku melantur ke jaring laba-laba yang dirusak di dekat tangga menuju ruang OSIS di SMP-ku. Bagi kita, tempat itu sedang dibersihkan, tapi saat aku melihatnya aku memikirkan laba-laba yang sedang pergi dari jaring itu. Jaringnya masih kencang, tampak seperti baru jadi semalam.  Aku tidak ingat pasti jaring mana yang membuatku memikirkan ini, apakah jaring yang di tangga, atau jaring yang aku lihat masih dibangun oleh si laba-laba, namun dalam satu hempasan sapu, jaring rentan itu menghilang begitu saja bersamaan dengan empunya. Rasa kasihan menjalari dadaku.  Saat berkemah itu, ketika yang lain sibuk memikirkan konsep pentas seni, aku yang merasa tidak berbakat memikirkan konsep dengan orang-orang pintar di sana membuat sebuah puisi, ten...

Sempatkan Pulang ke Beranda

Membasuh, lagu ini kupilih menjadi lagu tema catatan panjangku selama 27 hari ke depan. Sebenarnya Membasuh bukan salah satu lagu Hindia yang paling aku suka. Aku mudah bosan dengan melodi berulangnya dan vokal lembut dengan durasi yang lebih panjang dari lagu-lagu lain pada album Menari Dengan Bayangan (MDB). Aku terbiasa mendengar satu album dari satu penyanyi saat melakukan sesuatu, ketika aku mendengar MDB, Membasuh adalah satu-satunya lagu yang sering kulewati. Saat ada salah seorang kawanku mengaku menyukai Membasuh, aku kehilangan antusiasme bicara padanya karena rasa jenuhku pada lagu ini. Namun, aku yang tidak begitu menyukai lagu ini bukan berarti melupakan liriknya begitu saja. "Kita bergerak dan bersuara, berjalan jauh, tumbuh bersama. Sempatkan pulang ke beranda, 'tuk mencatat hidup dan harganya." Sepenggal lirik Membasuh yang dengan semena-mena terus terlintas di kepala ketika hari panjang berjalan dengan lambat dan menimbulkan rasa lelah. Bagiku, lirik itu...

Kecebur Sawah, Awan Hitam, dan Tangga Sekolah

Tadi sore setelah selesai kumpulan ekstrakurikuler jurnalistik, aku dan temanku, yang menjabat sebagai ketua jurnalistik mengambil sisa waktu kami di sekolah untuk mengobrol berdua. Di tangga samping kelasku yang langsung memberikan pemandangan hamparan sawah yang padi-padinya sudah hampir siap dipanen. Kami duduk berdua di sana, membicarakan berbagai hal yang berujung pada adu mulut, tentu bukan ciuman, tidak mungkin aku mau melakukan itu pada perempuan itu. Adu mulut kami ini melibatkan kontak fisik yang cukup parah sampai kami berdua kecebur sawah. Kami membisu, tidak ada kata yang keluar selama beberapa saat sampai akhirnya kami tertawa bersama. Amarah yang sempat membakar hati kami dipadamkan oleh lumpur sawah. Setelah kejadian mengenaskan itu kami menepi, di tepi sawah itu percakapan kami berlanjut. Dan kami sadar, bahwa ternyata menjadi pengurus jurnalistik tidak begitu melelahkan, kami berharap kami tetap bisa memegang ekstra itu. Ceritaku tidak selesai di sana. Saat kawanku, s...