Kecebur Sawah, Awan Hitam, dan Tangga Sekolah
Tadi sore setelah selesai kumpulan ekstrakurikuler jurnalistik, aku dan temanku, yang menjabat sebagai ketua jurnalistik mengambil sisa waktu kami di sekolah untuk mengobrol berdua. Di tangga samping kelasku yang langsung memberikan pemandangan hamparan sawah yang padi-padinya sudah hampir siap dipanen. Kami duduk berdua di sana, membicarakan berbagai hal yang berujung pada adu mulut, tentu bukan ciuman, tidak mungkin aku mau melakukan itu pada perempuan itu. Adu mulut kami ini melibatkan kontak fisik yang cukup parah sampai kami berdua kecebur sawah. Kami membisu, tidak ada kata yang keluar selama beberapa saat sampai akhirnya kami tertawa bersama. Amarah yang sempat membakar hati kami dipadamkan oleh lumpur sawah. Setelah kejadian mengenaskan itu kami menepi, di tepi sawah itu percakapan kami berlanjut. Dan kami sadar, bahwa ternyata menjadi pengurus jurnalistik tidak begitu melelahkan, kami berharap kami tetap bisa memegang ekstra itu.
Ceritaku tidak selesai di sana. Saat kawanku, si ketua ini pulang, aku masih harus menunggu salah seorang anggota paskib yang sedang latihan baru bisa pulang. Jadi sembari menunggu, ada salah satu kawan perempuanku yang baru saja kembali dari kencannya dengan sang kekasih. Dia tidak langsung pulang, dia berhenti dulu di sekolah, lalu kami berdua mengobrol. Di tangga di samping kelas IPS 1, kami tidak memiliki obrolan berat yang lalu melemparkan kami ke dalam sawah seperti yang bersama ketua ekstra tadi, hanya obrolan ringan dan melamun karena sudah cukup lelah.
Saat sedang melamun menatap langit yang sore tadi tidak menunjukkan semburat oranyenya seperti biasa, kawanku ini mengucap sesuatu, "Wah cantik banget." Aku yang sedang menyandarkan kepala di bahunya, heran pada apa yang dia bilang cantik saat matahari saja tidak menampakkan dirinya sore itu. Lantas aku menoleh ke atas, melihat gumpalan-gumpalan awan yang bisa secara tiba-tiba menumpahkan segala isinya pada kami yang berada di bumi. Tidak ada yang istimewa. Tapi terbesit rasa kasihan, kenapa awan yang seringnya berwarna oranye itu dikagum-kagumi banyak orang, sedangkan gumpalan berisi air ini tidak?
Aku merasa telah melakukan diskriminasi. Jadi aku mulai mengamati mendung-mendung itu. Mereka tampak otoriter, kehadirannya seperti sebuah perintah bahwa kami harus segera meneduh. Jika tidak, orang tua akan mengomeli kami dan flu menyerang tanpa aba-aba membuat tugas kami semakin menumpuk karena tidak kuat menahan sakit, hanya mampu tertidur nyenyak di bawah pengaruh paracetamol. Mereka tampak lebih tegas dibanding helaian awan berwarna emas di sore hari yang cerah. Tampak terlampau megah, aku pun mulai menerima pujian dari kawanku untuk awan-awan itu.
Komentar
Posting Komentar