Jaring Laba-Laba dan Tawon Sarang Lumpur
Kebanyakan laba-laba membuat jaringnya dalam satu malam tanpa beristirahat untuk nantinya dijadikan tempat bersarang, menangkap mangsa, atau meletakkan calon anak-anaknya.
Kalau tidak salah aku sedang berkemah di SMAN 2 Trenggalek, ketika ingatanku melantur ke jaring laba-laba yang dirusak di dekat tangga menuju ruang OSIS di SMP-ku. Bagi kita, tempat itu sedang dibersihkan, tapi saat aku melihatnya aku memikirkan laba-laba yang sedang pergi dari jaring itu. Jaringnya masih kencang, tampak seperti baru jadi semalam.
Aku tidak ingat pasti jaring mana yang membuatku memikirkan ini, apakah jaring yang di tangga, atau jaring yang aku lihat masih dibangun oleh si laba-laba, namun dalam satu hempasan sapu, jaring rentan itu menghilang begitu saja bersamaan dengan empunya. Rasa kasihan menjalari dadaku.
Saat berkemah itu, ketika yang lain sibuk memikirkan konsep pentas seni, aku yang merasa tidak berbakat memikirkan konsep dengan orang-orang pintar di sana membuat sebuah puisi, tentang jaring laba-laba yang acapkali dengan enteng kita hancurkan.
Sejak puisi itu abadi di dalam buku catatan yang diberikan oleh panitia kegiatan yang aku ikuti, aku selalu merasa sungkan untuk membersihkan jaring laba-laba. Aku selalu merasa akan diserang rasa bersalah karena telah merenggut rumah makhluk lain. Lebay memang, hal ini selalu terjadi setiap kali aku melihat jaring laba-laba yang masih segar. Lama kelamaan bibirku senantiasa mengucap maaf pada serangga berkaki delapan itu.
Selain jaring laba-laba, aku juga pernah melihat seekor serangga tampak kebingungan karena kehilangan tempat tinggal yang baru kemarin dibangun, bahkan belum selesai.
Satu ini aku mengingatnya dengan jelas. Ada sarang lumpur menempel di papan administrasi kelas kami, saat aku duduk di bangku kelas 8 SMP. Sarang lumpur itu tadinya hanya bercak-bercak, lalu keesokan harinya berubah menjadi lebih berdimensi. Aku tahu itu sarang lumpur karena terkadang aku melihat tawon menghinggapinya hingga bentuk rumahnya cukup berdimensi.
Tentu saja itu membuat kami sulit melihat beberapa hal yang harusnya dapat dibaca pada papan administrasi kelas kami. Akhirnya sarang lumpur yang belum tuntas itu dibersihkan. Lalu pada esok harinya seekor tawon yang senantiasa mampir ke kelas kami untuk menyelesaikan misinya membuat tempat singgah datang. Aku melihatnya saat sedang mengambil jeda sejenak dari menulis materi yang berhasil membuat punggungku merasa pegal.
Tawon itu terbang ke kanan dan ke kiri, tapi tubuhnya tegap menghadap papan administrasi kelas yang tadinya menjadi tempat calon rumahnya berdiri. Ia begitu terus, mungkin meratapi calon rumah yang dia bangun sendiri kini tinggal bercak, bahkan bekas lumpurnya tidak begitu tampak.
Aku tidak akan pernah tahu apa yang sungguh dirasakan oleh tawon sarang lumpur yang kehilangan sarangnya sebelum ia sempat berteduh di dalamnya. Tapi ingatan ini duduk manis di salah satu bagian otakku, rasa bersalah ketika aku melihatnya mencari rumah itu pun ikut duduk di sebelahnya.
Komentar
Posting Komentar