Aku Ingin Mencintaimu Saat Aku Meminum Sampanye
Siapa yang tak mengenal Sapardi Djoko Damono (SDD). Namanya mentereng di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia, sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Bersama dengan puisi-puisinya yang acapkali meminta dimaknai, atau diteruskan frasanya yang tak lengkap. Siapa pula yang tak tahu kalimat; "Tiada yang lebih tabah dari hujan bulan juni," satu penggalan puisi dari sekian puisinya yang entah bagaimana dulu bisa muncul dalam benak sang maestro, kini mengabadikan namanya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan kata yang tak sempat diucapkan / kayu kepada api yang menjadikannya abu // Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan isyarat yang tak sempat disampaikan / awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Aku Ingin, salah satu puisi SDD yang dikenal banyak orang, entah sejak kapan diam-diam menetap di dasar hatiku. Sama seperti keinginan aku untuk mencintai dengan sederhana, puisi ini juga sederhana. Joko Pinurbo (Jokpin) dalam acara bincang-bincang bersama SDD dan Najwa Shihab, 10 tahun silam kalau tidak salah, mengatakan bahwa mencintai dengan sederhana justru tidak sederhana.
Menunjukkan rasa cinta yang begitu dalam hingga rela kehilangan diri demi yang dicinta. Pengorbanan kayu dan awan dalam mencintai api dan hujan yang menjadikannya abu dan tiada, menjadi hal yang begitu memikatku. Dalam hatiku, puisi ini mengambil peran sebagai puisi romantis kesukaan.
Aku mampu memiliki rasa ingin berkorban sedalam itu kepada seseorang, kepada seseorang yang abadi dalam tulisan-tulisanku. Bagiku, puisi ini merupakan perwujudan dari apa yang pernah kurasa dan nantinya akan kurasa lagi.
Berdampingan dengan caraku memaknai puisi ini, musik klasik gubahan Eric Christian, I Love You When I Drink Champagne, hadir menjadi pendukung aura romantis yang dikeluarkan oleh puisi Aku Ingin. Melodi lambat dan melankolis membawa rasa kantuk, sering kali juga pikiran berkecamuk di tengah malam yang suntuk.
Aku tidak memiliki interpretasi beragam dari musik ini, seringnya aku duduk menghadap buku kosong dengan musik ini sebagai latar. Bukan musik yang benar-benar menunjukkan rasa cinta, karena bagaimana bisa seseorang mencintai hanya ketika sedang meminum sampanye. Walaupun begitu, musik ini tetap menjadi caraku untuk menyatakan perasaan yang paling dalam. Belum ada musik yang mampu mengeruk kenyataan dariku sedalam ini.
Komentar
Posting Komentar