Hantu Kucing Hitam

Sejak kecil aku takut pada kucing. Makhluk berbulu, berkaki empat dengan mata yang terkadang seperti reptil hendak memakanku hidup-hidup. Aku takut bukan kepalang melihat sosoknya muncul di balik pintu ketika bangun tidur. Besar, berbulu, berkaki empat, dan menatapku dengan mata gelapnya. Seakan aku akan menghilang ditelan kegelapan itu, aku menangis histeris, berteriak meminta pertolongan dari tatapan mata makhluk berbulu, berkaki empat itu.

Seringkali aku ditertawai karena ketakutanku pada seekor kucing, yang jika dipikirkan memang tidak pernah tahu dari mana semua ketakutan pada kucing itu berasal. Aku tidak hanya takut pada cakarnya, suara mengeongnya pada malam hari terdengar seperti rintihan setan yang siap menyergapku dengan mata yang menyala di kegelapan, atau terkadang seperti tawa menggelegar yang menertawaiku karena takut pada mereka.

Aku duduk di bangku SD kalau tidak salah ingat. Ketika keseharianku acapkali dihantui sosok kucing hitam, yang entah khayal saja atau memang ada, aku tidak pernah tahu. Siang bolong aku membantu mbok menjemur pakaian di halaman rumah saat tidak sengaja menatap pintu menuju dapur dimasuki kucing hitam. Mbok memintaku mengembalikan bak cucian ke belakang, tapi aku mengucap seribu alasan agar bisa menunda itu dan ke belakang bersamannya. Namun, tetap berakhir jujur karena aku memang tidak ditakdirkan pandai berbohong.

Aku berkata bahwa ada kucing hitam masuk ke dapur, tapi saat kami bersamaan masuk dapur, tidak ada hewan apa pun di sana. Ada kakung yang baru selesai dengan urusannya di toilet, tampak seperti bangun tidur. Jadi di sana aku berpikir, ah mungkin saja aku memang salah lihat.

Cerita lain yang tak begitu berbeda dengan yang pertama, saat aku hendak pergi keluar bersama kakung. Sekilas aku melihat kucing hitam lagi, memekik aku di dalam hati. Namun, seperti sebelumnya, itu hanya kakungku seorang. Aku sampai berpikir bahwa mungkin saja kakungku ini siluman kucing hitam.

Saat aku siap bercerita tentang semua khayalan kucing hitam di rumahku ke mbok, ada cerita lama yang aku baru dengar. Dulu saat aku belum lahir, mereka memelihara kucing hitam, masih kecil, energik, tapi kucing itu mati karena dibunuh kakaknya kakungku. Alasannya karena mengganggu membuat sate, lantas kepalanya dipukul dengan pisau yang dipakai untuk memotong daging. Sejak saat itu, kami tidak pernah memelihara kucing lagi. 

Ketika berjalan di malam hari, sosok kucing menjadi momok mengerikan yang senantiasa menungguku melewati ujung jalan dengan tatapan lapar. Masih segar di ingatan bagaimana batinku memekik kala melihat seekor kucing menatapku dalam diam di balik tiang listrik di ujung jalan. 

Segala ketakutanku sudah tidak ada lagi sekarang. Bukan sama sekali menghilang, masih tersisa ketakutan ketika mereka hanya menatapku atau suara rintihan mereka di samping rumah saat tengah malam. Tapi semua tidak separah dulu, aku bisa jatuh cinta pada mereka saat mereka mengusakkan lebat bulunya pada kakiku atau menatapku dengan mata hitamnya yang dulu menenggelamkanku pada ketakutan tak berdasar.

Karena kenanganku dengan kucing hitam ini, sekarang ketika melihat kucing hitam aku akan merasakan gelenyar rasa sayang yang aneh dan tak terucapkan. Karena cerita ini pula, cerpen The Black Cat karya Edgar Allan Poe menjadi salah satu cerpen favoritku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia