Aku Ini Binatang Jalang / Aku Ini, Binatang Jalang

Semakin lama orang-orang tampak semakin berbeda. Lantas lambat laun aku mulai terasa terasingkan dari orang-orang ini, baik di keluarga besarku atau di lingkunganku. Aku terasa tidak selaras lagi dengan bagaimana  mereka berpikir. Hal ini cukup mengganggu, aku terganggu dengan rasa 'berbeda' yang muncul di saat kita semua adalah manusia. Bukan rasa berbeda yang sama jenisnya dengan yang kurasa saat di SLBN Panggungsari, rasa berbeda yang ini lebih menyedihkan, bukan rasa bersalah tapi sendirian.

Kata kawanku; tak apa untuk merasa seperti ini beberapa saat, tak apa untuk merasa berbeda. Rasanya tidak tenang untuk saat itu. 

Puisi Aku, karya Chairil Anwar, kata kawanku yang sama dengan yang mengatakan hal di atas; "Kenapa pilih Aku, mainstream ga sih?" Sangat banyak orang yang tahu. Tapi kembali pada diriku, puisi ini mengandung nada berbeda mengandung sebuah rasa bangga akan beda yang aku miliki. 

Aku ini binatang jalang / dari kumpulannya terbuang

Bagiku, bagian ini menjadi tempat di mana Aku menyadari bahwa dirinya berbeda dan telah terbuang dari orang-orang di sekitarnya. Tidak ada kesedihan, justru kebanggaan terselip di pengakuan tersebut. Bahwa Aku akan tetap berlari biarpun peluru menembus kulit, Aku akan tetap meradang menerjang. Biarpun orang-orang menatap hina karena perbedaan, yang sebenarnya tidak merugikan mereka. 

Terdapat sebuah kebebasan pada puisi tersebut. Jadi biarlah aku memilih puisi mainstream ini, karena Aku adalah bagian dari diriku.

Selain menunjukkan nada kebanggaan pada puisi Aku yang menyebut dirinya sebagai binatang jalang dengan lantang. Di sisi lain ada pengakuan binatang jalang yang menyedihkan, sebuah pengakuan yang mendekati definisi gagal menjadi manusia.

Dalam buku karangan Dazai Osamu, Gagal Menjadi Manusia. Pada halaman 106, Yozo bercerita; "Aku ini binatang yang lebih rendah dari anjing dan kucing. Katak. Cuma bergerak-gerak lamban." "Hanya demi tidak menghiraukan 'adat', aku berulah macam binatang jalang."

Sebuah pengakuan menggetirkan di ujung kewarasan manusia saat dirinya telah sepenuhnya merasa ditolak oleh masyarakat. Sebuah pengakuan tanpa nada kebanggaan yang muncul dalam benaknya sebelum kesimpulan gagal menjadi manusia datang sekian kalimat setelahnya. Sebuah pengakuan bahwa dirinya tidak pernah pantas untuk menjadi manusia, tidak pernah memenuhi kualifikasi sebagai manusia. Kebebasan yang dia rasa hanya ketika berada di penjara, dipenjara karena gagal melakukan bunuh diri ganda bersama kekasihnya, sedangkan masa itu telah berlalu, entah di mana kini kebebasan itu berada.

Aku terhenyak ketika menyadari perbedaan ini, muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan dan perlahan bersanding abadi di salah satu sudut pikiranku sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia