Satu Ruang Kosong di Sudut "Rumah"
"Dalam hatiku ada sebuah sisi yang kosong. Seharusnya ada Emak di sana. Aku yang mengharuskannya demikian, namun tidak pernah menjadi kenyataan." (Ahmad Tohari, 1982: 99)
Aku tahu kekosongan itu selalu ada, sama seperti bagaimana aku membayangkan pikiranku adalah setumpuk buku yang seiring bertambahnya usia menjadi sebuah perpustakaan yang berdiri kokoh di atas diriku, isi hatiku juga kubayangkan sebagai ruangan-ruangan atau papan besar yang menggolongkan rasa sayangku pada orang-orang di beberapa peringkat yang berbeda.
Seingatku saat itu hari ibu, ketika aku berkata bahwa menahan gumpalan kekecewaan agar tidak berubah menjadi kebencian itu berat. Akibat dari tidak adanya pengetahuan tentang perceraian kedua orang tuaku atau alasan sekuat apa yang membuat seorang ibu meninggalkan anaknya yang bahkan baru mampu meminum ASI untuk menunjang nyawanya. Orang-orang, nenek dari ayahku, kakek dari ayahku, ayahku, kerabat kami, mereka semua berkata untuk jangan membenci ibumu, mau seperti apapun dia tetap ibumu. Tapi aku tidak paham. Siapa yang bisa menghentikan kekecewaan yang seiring bertambahnya usiaku semakin besar pula kekosongannya.
Aku tidak pernah merasa "kehilangan" ketika kecil, hidupku hanya ayah, nenek, dan kakekku. Sampai suatu hari seorang perempuan memandikanku, dengan polosnya aku bertanya, "mbak ibuku, ya?" Entah apa yang dirasakan ibuku saat pertanyaan itu muncul dari mulut anak pertamanya, entah beliau masih mengingatnya atau tidak, tapi semua itu tercetak terlampau jelas di ingatanku.
Aku ingat betul bagaimana aku menangis ketika aku mengatakan pada adik ibuku, tante yang selalu membuatku kagum, bahwa aku sekarang mampu mengobrol secara normal dengan ibu. Dengan paksa, dengan keinginan untuk berinteraksi seperti anak dan ibu pada umumnya, aku memaksa diriku melepas segala sungkan, malu atau semua hal yang membuat dinding di antara kami semakin tebal. Apa pun usaha dari beliau tidak akan mampu meraihku jika aku tidak mengalah.
Semua itu perlu waktu belasan tahun untuk akhirnya aku baik-baik saja, untuk akhirnya aku menerima ada beliau di hidupku. Mau bagaimanapun beliau tetap ibuku, mau bagaimanapun kebencian yang hampir tumbuh itu pernah ada dan aku tak akan pernah menyesalinya. Akan tetapi, ruang kosong itu tidak pernah benar-benar terisi, hanya semakin hilang gaungnya dan masih sedikit berdebu.
Komentar
Posting Komentar