Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu
Konyol rasanya manusia yang belum genap berusia 17 tahun ini berbicara tentang bagaimana perasaan romantis kepada manusia lain sangat berpengaruh pada jalannya keseharian. Saat itu aku kelas 8 SMP ketika sadar bahwa ada perasaan mengerikan mengendap diam-diam dalam hati yang lambat laun menghancurkan kewarasanku sendiri.
Saat itu aku perlu waktu untuk mencerna hal salah yang terjadi pada diriku, perlu waktu untuk menerima dan mengakuinya. Setelah mengakuinya apakah aku merasa lega? Tidak, tidak serta-merta aku merasa lega karena pengakuan itu terasa seperti kesimpulan yang diambil tergesa-gesa, seperti tidak akan ada kesempatan bagiku di lain waktu apabila saat itu, saat kami duduk di depan tangga dekat koperasi sekolah, aku tidak segera menyatakan hal ini padanya.
Tapi apakah aku menyesal? Tidak, bahkan tidak ada penyesalan sedikit pun pasca pengakuan, seakan-akan aku percaya bahwa dia akan mengerti dan kami akan tetap bersama.
Setelah semua itu, banyak waktu yang kami habiskan bersama dengan tanpa rasa rikuh dariku seakan aku tidak berdosa padanya. Hingga akhirnya, lambat laun aku mulai terlalu berani mengungkapkan apa yang kurasa tanpa memikirkan bagaimana dirinya jika aku terus seperti ini. Semua hanya tebakan-tebakan acak yang tidak akan pernah mendapat hitam-putih darinya. Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan selama ini? Apakah kewarasanmu baik-baik saja apabila tetap berteman denganku? Pertanyaan hanya menjadi pertanyaan yang menggantung di langit-langit kepalaku hingga berdebu dan mengerut kehilangan nyawa. Tidak pernah ada jawaban karena empunya enggan mengeluarkan semua itu. Bukannya bertanya aku malah merasa tidak terima karena merasa sama sekali tidak mengenalmu. Aku malah jujur mengungkapkan kecemburuan yang tidak pantas itu, tidak pernah melontarkan tanya bagaimana kabarmu di sana.
Semua itu lalu meledak di 275 hari yang lalu saat kamu berdoa semoga dengan ini kita bisa saling melupakan. Satu kalimat dari pesan panjangmu yang mejeng menjadi satu dengan banyak ingatan tentang kita, besar terpampang tanpa halangan dan senantiasa menyapaku di pagi hari.
Surat-surat itu seperti ikatan tali yang sepertinya lebih kuat dari pioneering yang pernah kubuat. Aku lega tapi juga menyesal. Apakah kejujuranku adalah momok mengerikan yang menekanmu atau seperti apa aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu.
Selama beberapa bulan lamanya, sejak saat kita tidak lagi sering bersua, kesenanganku hanya nama semata. Di hari-hariku, rasanya orang-orang itu hanya orang-orang, hanya nama yang tidak akan kuingat atau kurasa kasih sayangnya. Aku menolak kehadiran mereka semua hingga mati rasa. Aku hanya menginginkanmu, hanya hadirmu, sekadar ada dan kita makan bersama atau tertawa bersama, menonton film horror yang aneh di televisi bututku, tidur siang di kamar ayahku, makan bakwan jagung buatan nenekku, atau hal lainnya.
Doamu untuk kita saling melupakan itu aku syukuri adanya. Tampaknya malaikat mengamini doa itu hingga hatiku perlahan merasakan nama-nama di sekitarku hidup. Mereka manusia, dengan ragam sifat-sikapnya. Bersamamu menjadi pelajaran panjang bagaimana aku harus memperlakukan nama-nama itu dan bagaimana aku mengenal diriku sendiri lebih baik dari siapa pun.
Pada akhirnya, kamu adalah puluhan kalimat panjang di setiap tulisanku. Perasaanku tinggal menjadi belasan puisi yang mejeng di sosial media atau di sela-sela buku pelajaranku.
Kamu tidak pernah berubah menjadi tampak buruk seperti yang kutakutkan. Kamu adalah kamu dengan segala kebahagiaan dan keresahan yang sekarang kamu rasakan, begitu juga denganku. Aku yang tinggal di surat dan puisi-puisi untukmu akan selalu mencintaimu, meromantisasimu, dan mengangung-agungkanmu seakan kepadamu lah aku akan kembali dari hidup yang penuh dosa ini. Tapi tidak dengan aku yang menulis tulisan panjang ini, aku hanya akan menyanyangimu sebagai manusia yang telah memberiku pelajaran panjang yang akan kubawa melintasi hidup ini.
Aku tidak akan melontarkan pertanyaan yang telah kehilangan nyawa itu. Biarkan milikmu tetap menjadi milikmu, dan milikku tetap menjadi milikku.
Jujur ini adalah cerita terbaik yang ku baca dalam 1 minggu terakhir ini, bukan sepenuhnya karena suka dengan isinya tetapi karena relate dengan kisahku saat ini. Beruntungnya sekarang aku sudah mendapatkan cintanya yang telah tersimpan selama 2 tahun lebih, sama sepertiku.
BalasHapus