Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia

Membunuh pembunuh tidak mengurangi jumlah pembunuh di dunia, itu karena kita sama saja dengan pembunuh itu sendiri. Beberapa waktu yang lalu, di tengah hiruk-pikuk Indonesia, aku membaca kalimat itu entah di akun siapa, yang pasti di sosial media. Kalimat itu terlintas di pikiranku ketika menyadari kawan-kawan sekelasku mulai menunjukkan aksi pembullyan terhadap salah satu dari kami.

Di tempat baruku ini, ada satu siswi yang hampir tidak pernah tampak betah berada di kelas ketika jam kosong. Terlebih ketika bulan Agustus ini kami disibukkan dengan banyak kegiatan dan guru jarang masuk kelas. Aku hampir tidak pernah berbicara dengannya, tahu hal-hal perihal siswi itu pun dari kawanku yang lain. Kupikir tadinya dia sekadar pendiam saja, nomorku pun dia dulu yang menyimpannya, jadi kukira hanya perlu waktu sampai kami bisa menjadi akrab. Namun, semua tidak sesederhana itu.

Aku sadar semua tidak sesederhana itu saat kawan-kawanku mulai menertawainya tanpa sebab yang jelas. Lalu kudengar dia pernah mabuk, dia pernah mengalami kecelakaan karena berkendara saat mabuk, beberapa kali di media sosialnya dia menunjukkan diri pernah mencuri buah (yang masih di pohon) milik orang lain di pinggir jalan, beberapa kali menunjukkan kesedihannya perihal cintanya dengan seseorang yang pastinya aku tidak tahu siapa orang itu. Kawan sebangkunya tidak pernah menyerah untuk mengajaknya berbicara, tapi dia tetap bergeming, lalu keesokannya harinya atau beberapa hari setelahnya kami mendengar kabar bahwa siswi ini berkata dia tidak ditemani dan bahkan berkata bahwa dia dibully oleh kawan sebangkunya.

Orang-orang mulai jengkel padanya, tadinya bercanda biasa saja sampai siswi itu berkata bahwa dia tersinggung, di sosial media. Aku mulai berpikir bahwa apa yang mereka lakukan sama saja dengan pembullyan, apa yang dapat kulakukan di situ? Beberapa kali aku memberitahu mereka untuk jangan seperti itu padanya (beberapa kali itu mungkin masih sangat kurang).

Pada satu waktu aku mendapat kesempatan membicarakan hal ini dengan salah satu dari mereka yang pernah menertawakan siswi itu. Dia berkata, "Tapi dia dulu yang mulai, Syid, nyebut kita bully dia." Lalu kujawab anak itu, bahwa tak seharusnya kita malah mengiyakan apa yang dia tuduhkan. Terlintaslah kalimat yang menjadi judul tulisan ini. 

Aku bingung pada apa yang mereka permasalahkan di sini, dia yang selalu mengungkit masalah romantisnya? Itu haknya untuk berekspresi di sosial media. Alay? Menurutku alay itu sama dengan normal, sesuatu yang tidak absolut, dua hal itu bergantung pada bagaimana cara seseorang melihat sesuatu.

Atau karena mabuknya? Itu kejadian lamaaa sekali aku dengar, untuk apa dipermasalahkan. Apakah aku menormalisasikan anak di bawah umur yang mabuk? Bukankah berdosa? Tentu aku tidak menormalisasikan, dan tentu itu berdosa. Namun, perihal dosa, itu urusan dia dengan Tuhannya, jika dia tahu dia adalah hamba dari Tuhannya, pasti dia paham betul apa yang dilakukannya. Sebagai kawannya, bukankah harus saling mengingatkan? Kejadian itu jauh sebelum kita semua berada di satu kelas yang sama, jika kenal saja tidak, mana mungkin pantas untuk langsung menegurnya dan melarangnya melakukan sesuatu yang bisa jadi dijadikannya pelampiasan rasa lelahnya terhadap dunia.

Aku masih tidak mendapat jawaban mengapa dia harus menjadi bahan komedi orang-orang. Jika alasannya karena dia mengatakan bahwa dia dibully di kelas jauh sebelum pembullyan yang sesungguhnya terjadi, maka tak seharusnya orang-orang malah mengiyakan tuduhannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu