Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?
Minggu ini jadwalku padat sekali, banyak kegiatan-kegiatan di luar kegiatan akademik yang muncul satu-persatu. Di awal minggu aku menyiapkan reorganisasi dan mendapat tanggung jawab baru di organisasi tersebut. Lalu diajak untuk mengikuti bedah buku bersama mas Agus Mulyadi dan DeLiang Al-Farabi. Jumat kemarin aku makan-makan bersama satu kelas, pulang larut lantas tidur larut pula. Aku sangat bersemangat untuk mengikuti bedah buku, kumpul bersama kawan-kawanku tidak terlalu membuatku excited karena biasanya aku tidak merasakan kesenangan yang sesungguhnya saat beramai-ramai. Namun, aku tetap menikmatinya, karena itulah aku mulai menerka, bagaimana jika aku mati hari ini?
Kematian itu sangat dekat. Bisa kapan saja dan di mana saja. Aku mulai dihantui oleh kata mati setelah salah satu kawanku keesokan harinya mati padahal malamnya dia masih mengobrol denganku. Dalam setiap sujud aku berdoa untuk umur panjang sekalipun di hadapan manusia aku biasa saja dengan kata mati. Terkadang rasanya takut, terkadang juga tidak.
Lama-kelamaan pikiran perihal mati itu tidak datang hanya pada saat aku lelah. Namun, juga saat aku terlalu senang menanti sesuatu. Aku entah karena apa percaya jika merasa terlalu senang, akan muncul penyebab ketidaksenangan bahkan kematian itu sendiri. Tanpa sadar aku mulai membatasi emosiku, tidak ingin terlalu senang juga tidak murung. Berusaha biasa saja, santai saja. Mungkin itu sebabnya aku merasa orang lain, beberapa dari mereka merasa, kurang cocok bicara denganku. Aku kurang lucu. Seringkali aku merasa kurang cocok dengan guyonan orang lain, yang lucu sekali untuk orang lain, guyonan yang biasa sekali dilagukan oleh mereka, aku tidak memahami itu. Mungkin karena itu aku mulai menjauh, rasanya aku merusak suasana saja jika aku ada di antara orang-orang itu.
Kembali pada mati, rasanya setiap hari aku diintai kata itu. Pada setiap embusan napasku, rasanya satu embusan itu akan hilang, lenyap begitu saja tanpa sisa. Pada sudut-sudut ruang bahkan langit, ke mana pun kakiku berpijak, rasanya kematian senantiasa siap menyergap, mencekik leherku untuk lalu dihukum akibat kenakalanku yang semena-mena.
Saat senang begitu, saat perihal mati muncul kala aku mendamba suatu kesenangan. Rasa eman dan takut begitu kuatnya, membuatku bergidik ngeri. Namun, saat perihal mati muncul kala aku lelah, rasanya boleh saja saat itu juga. Biarlah aku pergi, biarlah aku lari dari segala tanggung jawabku dan meninggalkan segala hakku selama itu berarti aku tidak perlu kembali. Sekalipun aku tak bergelimang harta untuk dunia, tapi bergelimang dosa.
Komentar
Posting Komentar