Dulu, Semua Memiliki Batas
Dulu aku berpikir bahwa memasak itu tugas perempuan, merokok itu hanya dilakukan oleh laki-laki, motoran wajib dikuasai laki-laki, yang bekerja hanya laki-laki, dan banyak hal yang sangat jelas garis pembatasnya pada mata kecilku.
Hingga seiring bertambahnya usia semua batas itu memudar. Aku tumbuh dan batas itu perlahan menghilang. Kini kurasa semua orang memiliki hak untuk melakukan atau menggunkan apa pun yang dulu bagiku hanya untuk satu kaum. Cara batas itu menghilang dari kepalaku sangat-sangat ekstrem, dari yang dulu berpikir bahwa sesuatu ini milik perempuan dan sesuatu itu milik laki-laki, lalu berubah menjadi bahwa kita semua bisa memiliki ini dan itu.
Ada satu ingatan ketika salah seorang kerabatku mengajari kodrat perempuan. Saat itu aku entah berapa tahun, entah duduk di bangku sekolah yang mana, yang pasti dia berkata padaku bahwa kodrat perempuan itu masak, manak, macak. Aku iya-iya saja saat itu. Lalu seorang Najwa Shihab yang hanya kukenal melalui layar televisi, dengan kalimat-kalimatnya yang dulu, bahkan sampai sekarang, masih sulit kupahami, mengatakan bahwa; kodrat perempuan itu hanya menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Selain dari pada itu, laki-laki bisa melakukannya. Aku tertegun, entah kenapa lebih setuju dengan ucapan sang jurnalis daripada ucapan kerabatku dulu.
Di sana titik balik dari caraku melihat batasan. Merembet ke cara berpakaian orang-orang, warna, dan media bereskpresi lain yang semakin lama semakin buram batasannya di mataku. Dan jadilah aku yang sekarang.
Komentar
Posting Komentar