Dih Wibu

Judulnya terasa nggak niat. Tapi ini niat, kawan. 

Saat itu aku kelas 6 SD ketika mulai mengikuti kawanku yang menonton anime. Sebenarnya saat itu aku hanya ingin mengakrabkan diri dengannya. Aku sungkan jika hanya menghubunginya ketika butuh contekan PR. Alhasil aku banyak bertanya tentang anime yang dia sukai, lalu dia merekomendasikannya padaku, dan aku mulai menonton anime. 

Setelah anime pertama itu (aku tidak ingin mengatakan apa judulnya karena aku yakin pasti akan terkena kesan buruknya) aku mencoba yang lain, yang lagi ramai, seperti Jujutsu Kaisen misalnya, atau yang lain. Dulu aku hanya bisa menonton satu episode dalam seminggu karena belum memiliki wi-fi, paket data pun pas-pasan dan harus kugunakan untuk tugas sekolah, saat itu pandemi Covid-19.

Aku hanya bisa menonton anime saat akhir minggu, bermain ke rumah nenek buyutku, menonton anime di hp bututku yang sekarang sudah tidak bisa kugunakan. Satu episode itu pun aku tidak bisa menamatkannya dalam satu hari, huehue.

Ada satu cerita yang memilukan awokwowkwo. Aku pernah dimarahi habis-habisan oleh nenekku karena aku selalu boros paket data, jadi baru seminggu beli misalnya, paket dataku sudah habis, karena apa? Anime tentu saja, memang ga dipakai otaknya dulu ini. Karena aku merasa sakit hati saat itu, aku memilih untuk tidur sendiri, di kamar ayahku yang sedang ditinggal merantau (sejak kecil hingga sekarang aku masih tidur bersama nenekku). Untuk beberapa saat, ada banyak hal buruk yang menghinggapi diriku selama menikmati malam sendirian di kamar ayah, bukan setan atau hal-hal mistis, tapi kewarasanku.

Mengesampingkan hal itu, aku tidak merasa sia-sia menyukai anime. Karena jujur saja, ketika aku mulai mengikuti suatu anime, algoritma menyajikan berbagai jenis anime dan komentar yang beragam, aku sadar bahwa dunia ini seluas itu. Isinya tidak hanya aku dan desa kecilku, tapi sungguh ada ribuan manusia di dunia, dengan berbagai macam tindak tanduknya. Rasanya ada jendela besar yang baru saja dibuka di kepalaku, dan aku tidak akan melupakan sensasi kesadaran itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia