Di Sepetak Tanah Berdiri Perpustakaan
Ada satu episode Spongebob Squarepants yang menunjukkan dirinya berada di dalam otak sedang mencari ingatan-ingatannya, tumpukan-tumpukan kertas menjulang dan begitu banyak spongebob kecil yang sedang mencatat ingatan baru atau mencari ingatan lama. Juga Inside Out yang menujukkan emosi di dalam pikiran kita hidup dan secara bergiliran memberikan reaksi terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita. Mungkin mereka lah yang membuatku ikut membayangkan bahwa di dalam pikiranku ada hal seperti ini juga.
Saat itu aku kelas 5 SD ketika naksir kakak kelas dan berakhir merasa sedih karena dia menolak perasaanku, ya semacam cinta monyet yang biasa dialami anak SD. Tapi aku yakin dari sanalah bayangan bahwa isi pikiranku merupakan sebuah perpustakaan besar yang menyimpan banyak ingatan, rencana, perasaan, dan masih banyak hal lain yang tidak akan cukup apabila dicantumkan. Mereka semua dalam bentuk catatan atau buku-buku, dan ada satu pustakawan, aku.
Ketika perasaan sedihku itu muncul, rasanya satu perpustakaan itu diluluh lantakkan. Berantakan bukan main dan perlu waktu untuk si pustakawan membereskan semuanya. Setelah semua itu selesai, ruangan itu rapi lagi, muncul hal baru yang membuat semua berantakan lagi. Saat masih berlangsung semua itu rasanya lebih berantakan dan berat dari pada yang sudah pernah terjadi. Entah berapa banyak buku, atau kertas yang terhamburkan begitu saja, berserakan di seluruh lantai, tinta-tinta tumpah ruah, tidak ada yang berada pada tempatnya.
Lalu untuk waktu yang lama si pustakawan hanya duduk di mejanya, mengerjakan hal lain dan menerima segala kerusuhan tersebut. Hingga pada akhirnya perlahan-lahan buku-buku yang masih berserakan dan tak berada pada tempatnya mulai dibereskan, mulai dikembalikan pada raknya, pada urutannya. Akan tetapi, tetap menerima fakta bahwa memang ada beberapa yang tak dapat langsung ditutup begitu saja, ada beberapa yang masih terus terbuka dan memuntahkan darah setiap malamnya. Dibiarkan saja begitu sampai selesai semua masalahnya. Karena yakin bahwa pasti nanti ada waktunya arus kesakitan itu berhenti mengalir.
Aku pasti sangat sibuk di dalam sana, mengurus segala hal seorang diri, tidak pernah ada orang yang benar-benar mampir di sana. Siapa yang menciptakan kekacauan tidak pernah benar-benar singgah, hanya sebuah bayangan yang dibawa angin dan menghempaskan tumpukan buku-buku bahkan beserta raknya. Sekacau apa pun hanya aku yang mampu membereskannya, membersihkan semua hingga sisa-sisanya sudah tak tersisa lagi.
Komentar
Posting Komentar