Kali ini Aku Tidak Bisa Menerima Diriku yang "Berbeda"

Rasa rikuh menyambutku saat pertama kali menginjakkan kaki di SLBN Panggungsari. Jarang sekali aku merasa secanggung itu berada di tempat baru, seringnya aku selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja aku akan mendapat teman di mana pun aku berada. Banyak teman yang ikut, pastinya aku tidak sendiri karena kegiatannya diikuti oleh beberapa siswa-siswi lain dari sekolahku. Namun apa yang kurasakan mungkin tidak atau mungkin juga dirasakan oleh yang lain, sejauh ini aku baru bercerita pada satu orang.

Sudah tiga hari berlalu sejak aku datang ke sekolah luar biasa itu, masih segar di ingatan bagaimana aku berjalan masuk melalui gerbang sekolah itu, rasanya seperti berbeda. Jika di masyarakat, anak-anak berkebutuhan khusus itu yang berbeda, di sini, aku yang merasa berbeda. Perasaan berbeda yang ada pada diriku saat memasuki sekolah itu tidak berdiri sendiri dalam batinku, rasa bersalah dan berdosa juga bersanding dengan rasa berbeda itu. Aku bersama banyak teman yang sama denganku, tidak kurang sedikit pun, tapi rasa berbeda lebih besar dibanding perasaanku yang lain. 

Saat mataku menyapu pemandangan tempat baru itu, perasaan bersalah berkembang sama besarnya dengan rasa berbeda, seorang siswi berkacamata tersenyum padaku saat kami tak sengaja melakukan kontak mata, setelahnya aku tahu kalau dia seorang tuli. Perasaan bersalah selama berjalan memasuki gerbang sekolah itu muncul karena aku merasa tidak kurang sedikit pun, aku bisa berpikir tanpa terganggu, aku bisa melihat, aku bisa berjalan, berlari, melompat, aku bisa mendengarkan segala sesuatu di dunia ini bahkan ketika aku tidak ingin mendengarnya. Semua kesadaran bahwa aku tidak kurang sedikit pun itu rasanya memalukan. 

Malu karena aku yang tidak kurang sedikit pun ini kerap kali ingin mengakhiri semuanya, kerap kali merasa tidak bisa apa-apa dan ingin menyerah saja, sedangkan di sekolah itu puluhan anak berjuang untuk dapat melakukan apa saja, untuk dapat diterima masyarakat dan hidup di antara kita semua. Malu karena merasa semena-mena yang aku sendiri tidak terlalu paham kenapa aku merasakan semua ini. Aku tidak mampu berjalan dengan kepala tegak, rasanya sombong apabila aku melakukannya. 

Pikiranku berkelana melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, bagaimana dunia yang mereka jalani, rasanya jauh sekali. Rasanya aku tidak mampu menggapai mereka, atau mengerti apa yang mereka jalani. Aku amat sangat bodoh di tempat itu, satu-satunya hal yang membuatku kehilangan rasa malu, bersalah, berbeda, adalah ketika aku memperhatikan bagaimana semua guru di sana tampak sangat menyayangi siswa-siswinya.

Ada satu guru yang begitu menarik perhatianku, lama-lama tumbuh rasa sayang juga padanya, hanya perlu waktu kurang dari satu hari bagiku untuk jatuh cinta padanya. Senyum yang tergambar terlampau jelas pada raut wajah beliau tatkala berbicara, atau sekadar melempar guyon pada siswa-siswinya membuat batinku yang teramat kedinginan perlahan-lahan menghangat. 


Apa yang membuat beliau memilih jalan ini untuk menghabiskan waktu hidupnya? Aku sangat ingin menanyakannya, tapi pertanyaan itu tampaknya hanya akan tergeletak dan berdebu untuk waktu yang tidak ditentukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia