Inggih Tapi Tidak Ditenani

Dari kecil aku diajari untuk tidak menolak tawaran orang lain dengan kata "mboten" alias tidak, katanya itu tidak sopan, terlalu kasar. Biasanya saat ditawari seseorang untuk mampir atau diberi sebuah makanan atau tawaran jenis apa pun dan aku tidak segera membalas, nenekku akan mewakiliku mengucap "inggih", yang sebenarnya itu dilakukan untuk membiasakan diriku agar mengucapkannya saat hendak menolak tawaran seseorang, lalu pergi begitu saja. Jadi maksud dari kata inggih alias iya itu tadi merupakan sebuah penolakan yang halus. Sudah sejak kecil aku diajari begitu tapi jika ditawari masih saja nenekku yang mewakili hingga detik ini di usiaku sekarang, karena menjawab iya untuk sesuatu yang tidak kau inginkan karena tidak sopan bila menjawab tidak itu terasa aneh.

Basa-basi, itu dia yang paling berperan dalam inggih tapi ndak ditenani, karena bisa saja sebenarnya seseorang yang menawari sesuatu tidak benar-benar ingin menawari itu, hanya basa-basi saja agar tampak ramah atau tidak pelit. Di tempatku begitu dan aku tumbuh begitu juga sampai di kelas 7 semester dua saat aku mulai berteman dengan siswi baru di kelasku dari luar kota, luar pulau Jawa lebih tepatnya.

Saat itu aku sedang memakan jajan, lalu karena aku satu bangku dengan anak itu jadi dengan niat hanya basa-basi aku menawari jajanku. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan mengiyakan dan benar-benar mengambil satu jajanku, jika dibilang sedikit syok itu jelas bohong, aku sungguh syok saat dia mengiyakan tawaranku. 

Selama ini, sebelum aku bertemu dia tentunya, langsung menerima tawaran seseorang yang menawarimu sesuatu itu terasa sedikit sungkan. Bahkan ketika ada siswa lain yang menawarinya sebuah makanan dia akan benar-benar menerimanya, kawanku yang satunya tertawa heran tatkala anak itu menerima tawaran orang lain begitu saja. Saat di rumahku pun, biasanya kawan-kawanku yang mampir ke rumah sangat sulit diajak makan, tapi tidak dengan anak itu, dia sungguh menerimanya, mau-mau saja, tidak punya sungkan. Mungkin jika orang yang menawarinya makanan itu bukan orang tuaku, dia akan dianggap "ndak ndue duga".

Sudah selesai perihal tawar-menawar ini, aku sudah menerimanya. Sekarang aku tidak pernah basa-basi menawarkan sesuatu kepada seseorang, dan jika seseorang sungguh ingin memberiku sesuatu aku akan menerimanya tanpa sungkan-sungkan. Aku belajar banyak dari anak itu.

Kita beralih ke lain hal sekarang, perihal mampir, seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa aku diajari untuk menolak dengan inggih-senyum-pergi. Yang satu ini aku tidak bisa berubah, aku masih sama seperti bagaimana diriku dididik sejak kecil. Sedangkan anak itu, anak itu yang membuatku menyadari kebiasaan inggih sing ndak ditenani ini. 

Beberapa hari lalu dia bercerita tentang dirinya yang datang ke rumah mantan pacarnya karena diundang oleh ibu mantan pacarnya. Dalam hatiku melongo mendengarnya, jadi dia benar-benar datang ke sana setelah diundang? Wah, padahal bisa jadi ibu mantan pacarnya hanya basa-basi, bisa juga tidak.

Bahkan setelah beberapa tahun kami berteman aku masih bisa dibuat tertegun dengan apa yang dia lakukan. Aku sungguh belajar banyak darinya. Terima kasih loh ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia