Ya Wis, Berarti Cara Berpikirnya Sampai di Situ

Pagi-pagi sekali aku disuguhi sebuah artikel dari Mojok.com yang ditulis oleh mbak Putri Ardila berjudul "Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-Apa" yang membahas tentang budaya rewang di desa.

Tujuan dari rewang sebenarnya baik, yakni membantu tetangga yang sedang punya hajatan, tapi di dalamnya rewang menjadi sebuah ujian yang akan menentukan wajahmu di masyarakat. Jika kurang cekatan akan dicaci, menjadi terlalu cekatan pun dicap keminter. Jika tidak lihai menangani urusan dapur, apalagi sebagai perempuan, akan terlihat seperti perempuan gagal, kalau lihai pun pujiannya tidak jauh-jauh dari keluarga, suami, anak, dan mertua. Sedihnya, mereka sering kali menyindir bukan menegur, dan itu cukup memuakkan. Rewang juga merupakan tempat di mana masa depan dipertanyakan, "mau sekolah di mana?" "Kapan nikah?" "Mau jadi apa?" Jika sekiranya jawaban kita tidak memuaskan, mereka akan dengan "bijak" mengarahkan masa depan kita. Kata mbak Putri Ardila, rewang itu perlu kuat mental.

Sering kali apa yang dilontarkan ibu-ibu rewang, yang mungkin bermaksud menasihati, tidak sejalan dengan caraku berpikir. Apalagi kalau menyangkut rumah tangga, mereka menjadi penasihat paling lihai untuk para perempuan muda yang ikut ibunya rewang. Memberi tips jitu berumah tangga yang seringnya berkata, "Cah wedok ra usah sekolah adoh-adoh," "Cah wedok ki kudu iso ngene ben morotuwo seneng," dan masih banyak lainnya.

Saat ikut rewang nenekku, tak jarang ucapan mereka membuatku muak, apalagi jika sudah membahas perempuan. Aku sangat ingin menjawab ucapan mereka, membenarkan cara berpikir mereka yang kolot bagiku. Namun, rasanya sulit untuk membela diri, karena bisa jadi yang dicap jelek adalah keluargaku, dicap tidak bisa membesarkan anak hanya karena aku menyanggah ucapan mereka.

Di saat aku membaca tulisan mbak Putri Ardila, terlintas ucapan tanteku kala aku menceritakan stigma jelek kawanku tentang sebuah budaya di suatu daerah yang sedang dikunjungi tanteku. Jawaban tanteku kala itu tidak sesuai ekspektasiku tapi dengan betah tinggal di kepala setelah semuanya berlalu.

"Ya wis, berarti cara berpikir temanmu sampai di situ." Beliau tidak menyalahkan, dan kalimat itu menenangkanku dari rasa ingin membenarkan yang sering muncul setelah hari itu.

Sama seperti rasa ingin membenarkan yang muncul bergantian, namun hilang begitu aku mengingat ucapan tanteku, rasa ingin membenarkan ibu-ibu rewang itu, di saat seperti ini, saat tidak rewang, juga menghilang karena menyadari bahwa sekeras apa pun aku menyanggah, mereka akan teguh pada pendiriannya, memang sampai di situ cara berpikirnya.

Namun, menurutku, jika mayoritas masyarakat memiliki cara berpikir seperti kebanyakan ibu-ibu rewang, maka sebuah budaya yang mampu merugikan generasi selanjutnya akan terus hidup. Jadi, sebenarnya aku sendiri tidak tahu harus apa, yang mampu kulakukan untuk diriku sendiri adalah tidak mempedulikan ucapan buruk mereka dan mengambil baiknya, karena tidak semua dari mereka seburuk itu. Benar kata mbak Putri Ardila, rewang itu perlu kuat mental.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia