Ambiguitas Penokohan Noé Archiviste yang Mampu Menarik Pertikaian Antarpenggemar
Vanitas no Carte atau The Case Study of Vanitas adalah salah satu manga gubahan Jun Mochizuki, mendapat adaptasi anime pada 2021 oleh studio Bones. Animanga dengan genre dark fantasy, steampunk, dan misteri ini menceritakan tentang Noè Archiviste, sang tokoh utama, yang menulis perjalanannya bersama Vanitas, seorang manusia yang mewarisi nama dan kitab Vanitas sang vampir bulan biru yang dilegendakan membawa kutukan bagi para vampir bulan merah, sebelum akhirnya membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Jun Mochizuki dalam karyanya satu ini memberikan ruang interpretasi luas yang tampak pada bagaimana dinamika relasi antar tokoh utamanya, terutama pada penokohan sang tokoh utama di sepanjang cerita, Noè, yang terkesan ambigu dan penuh tanda tanya apabila ditelisik lebih jauh.
Dari segi visual, Noè sendiri sudah menimbulkan kesan unik karena warna kulitnya yang eksotis dengan notabene seorang vampir. Vampir yang dalam kebanyakan cerita fantasi digambarkan berkulit pucat dan berhati dingin, Noè justru digambar berkebalikan dengan vampir pada umumnya. Penokohan Noè sebagai sosok polos dan jujur akan perasaannya membuatnya memiliki kesan hangat daripada dingin seperti pada kebanyakan vampir di cerita fantasi. Mochizuki sendiri mengemukakan bahwa Noè sengaja didesain sedemikian rupa agar kontras dengan Vanitas yang berkulit pucat, berambut hitam, dan berpakaian serba hitam (Noè berkulit gelap, berambut putih, dan berpakaian serba putih). Selain karena dibuat kontras dengan Vanitas, warna kulit dan warna rambutnya juga merupakan ciri khas dari klan vampir Archiviste. Hal menonjol lain dari Noè yang menyebabkan adanya beragam interpretasi yang mampu menyebabkan pertikaian antarpenggemar adalah bagaimana relasi dia dengan tokoh-tokoh lain.
Seperti yang diketahui, Noè dalam cerita memiliki relasi yang kuat dengan Dominiquè de Sade, cucu kandung guru yang telah membesarkannya. Kedekatan keduanya seringkali dibumbui adegan-adegan intim bahkan pernyataan cinta. Pada salah satu panel, Noè menyatakan cintanya pada Domi, sedangkan pada saat kemunculan Domi untuk pertama kalinya, dia dengan gamblang menyatakan bahwa Noè adalah tunangannya. Namun, seperti halnya pernyataan cinta Jeanne kepada Domi yang terasa seperti dari sahabat kepada sahabatnya, pernyataan cinta Noè kepada Domi terasa seperti rasa cinta dari saudara ke saudara dan bukannya sebuah pernyataan cinta romantis. Ditambah dengan mereka yang tumbuh bersama, kedekatan mereka tampak karena ikatan persaudaraan. Kemunculan Domi dan pengakuannya juga memiliki kemungkinan dia lakukan untuk melindungi Noè dari hukuman Count Orlok yang berisiko merugikan Noè, dengan kekuatannya sebagai seorang bangsawan hal itu mudah dilakukan.
Selain daripada itu, kesan pernyataan cinta dari saudara ke saudara itu muncul karena Mochizuki menyuguhkan adegan-adegan yang seakan-akan menunjukkan rasa emosional Noè bahkan menyerempet ketertarikan romantisnya lebih kuat tertuju pada Vanitas. Hipotesis ini tidak muncul semata-mata karena aku ngeship Vanoè/Noèvan, tapi muncul dari bagaimana respon, gestur, dan tindakan Noè dibingkai dalam animanga. Jika ditanya, apakah aku shipper Vanoè/Noèvan? Tentu bukan. Aku di sini mempertanyakan orientasi Noè, bukan menjodohkan Noè dengan partner lelakinya. Aku baik-baik saja dengan Vanijeanne, karena mereka sudah dikonfirmasi saling menyukai, saling tertarik satu sama lain.
Kembali ke Noè. Sering kali respon, gestur, atau tindakan yang Noè lakukan dibingkai secara berbeda dan meninggalkan kesan ambigu yang jujur janggal. Seperti di awal episode, Noè melihat Vanitas yang sedang ria bersama Jeanne dengan tatapan yang menimbulkan spekulasi, lalu saat dia tahu kalau ada tanda Jeanne pada leher Vanitas, yang berarti Jeanne telah meminum darah Vanitas, membuat dia menyatakan perasaan anehnya tentang Vanitas dan Jeanne kepada Domi, yang ditanggapi dengan canda oleh Domi. Selain ditunjukkan melalui gestur, pembingkaian Noe pada beberapa scene digambar dengan membelakangi cahaya, seakan menekankan pada sebuah perasaan janggal yang dirasakannya. Tak jarang pula hanya ditunjukkan bagian matanya tatkala ada hal janggal yang dia rasakan.
Namun, dari semua itu ada sesuatu yang terpampang tapi terlupakan, yakni kenyataan bahwa Noè adalah tokoh yang emosional, polos dan sangat peduli dengan tokoh lain. Perasaan yang dia rasakan sering kali tampak begitu jujur, muncul begitu saja ke permukaan, gestur cemburu atau iri saat melihat Vanitas bersama Jeanne tidak dapat semata-mata diartikan sebagai perasaan romantis. Karena boleh jadi perasaan itu muncul karena kedekatannya dengan Vanitas terasa terancam dengan keberadaan Jeanne yang menjadi pusat perhatian Vanitas, tapi bukan dalam bentuk romantis, melainkan ikatan persahabatan.
Perasaan aneh saat Noè melihat Vanitas membiarkan Jeanne meminum darahnya juga tidak dapat dijadikan alasan untuk melabeli Noè sebagai queer. Karena Vanitas adalah tokoh yang misterius, masa lalunya hampir tidak diketahui, bahkan nama aslinya belum pernah disebutkan di animanga. Mengizinkan seseorang meminum darahnya tidak sedangkal boleh meminum darah, di dunia di mana meminum darah satu sama lain merupakan cara intim untuk lebih mengenal satu sama lain, tindakan itu memberi arti bahwa seseorang telah menaruh rasa percaya.
Noe yang sudah lebih lama bersama Vanitas belum pernah diberi izin untuk mencicipi darahnya, karena dia seorang Archiviste (klan vampir yang bisa melihat ingatan melalui darah yang dia hisap) dan Vanitas tidak akan membiarkan siapa pun mencuri ingatannya, sedangkan Jeanne yang baru beberapa kali bersua dengan Vanitas lebih dulu diberi izin mencicipi darah manusia yang mewarisi nama dan buku sang vampir bulan biru tersebut. Hal ini bisa jadi menyebabkan munculnya rasa tersisih pada batin Noè, karena keinginannya untuk lebih dalam memahami Vanitas dihalangi oleh sikap Vanitas yang selalu menjaga jarak dengannya, tetapi Jeanne mendapatkan celah yang tidak pernah didapat oleh Noè.
Perasaan aneh itu bisa dengan mudah disebut sebagai kecemburuan, namun bukan berarti kecemburan romantis. Perasaan tergeser dari posisinya sebagai partner Vanitas menjadi dorongan mengapa dia merasakan hal tersebut, yang membuat hal ini semakin rumit adalah karena Noè sendiri belum bisa dengan pasti mengkategorikan apa yang dia rasakan.
Jujur, aku menulis ini dengan keyakinan bahwa ada getaran queer dari bagaimana Noè dibingkai di sepanjang cerita, namun semakin aku melihatnya semakin hilang getaran queer tersebut (meski masih tersisa sedikit) karena seperti yang kubicarakan di awal bahwa Noè adalah tokoh yang emosional, polos, dan sangat peduli dengan karakter lain, dia itu menyerempet naif, tapi tidak bodoh. Tindakannya penuh percaya diri bahwa semua bisa diselamatkan, namun apabila sudah saatnya dia mengerahkan kekuatannya dia bisa melakukannya. Mulutnya juga dapat dengan mudah mengatakan bahwa dia mencintai seseorang, tapi di sisi lain dia sulit mengenali perasaannya sendiri, terutama terhadap Vanitas.
Keinginannya meminum darah Vanitas menimbulkan pertanyaan untuk dirinya sendiri, apa motifnya menginginkan darah Vanitas? Apa hanya karena dia lapar? Apakah dia ingin mengintip ingatan Vanitas seperti yang dikatakan oleh Vanitas? Atau perkataan Vanitas itu salah? Tidak ada jawaban hitam-putih untuk pertanyaan-pertanyaan itu, Noè hanya berdiam diri menyadari sesuatu yang tidak dibagikan kepada penonton/pembaca menimbulkan munculnya beragam interpretasi terhadap adegan yang ditunjukkan.
Apabila dihubungkan dengan masa lalu Noè dengan Louis de Sade, kakak laki-laki Dominiquè de Sade, yang seperti diketahui bahwa keduanya memiliki ikatan yang lebih kuat daripada Noè dan Domi. Keduanya memiliki hubungan yang sering kali dicap romantis oleh kebanyakan penggemar, mereka akan berucap dengan keheranan, "Kenapa Noè tampak lebih menyukai Louis daripada Domi?" Lalu yang lain datang dengan berkata bahwa Noè memang seorang queer. Jawaban dari pertanyaan kenapa di masa sekarang ketertarikan Noè lebih condong kepada Vanitas daripada Domi, dijawab dengan karena dari dulu dia lebih tertarik ke laki-laki daripada perempuan, lihat saja hubungannya dengan Louis.
Aku sama sekali tidak membenarkan itu. Ya, aku di sini juga tidak ingin merasa paling benar, hanya saja kesimpulan bahwa Noè suka (secara romantis) Vanitas karena dulu dia suka Louis jadi dia pasti gay, itu terlalu cepat untuk tokoh seperti Noè.
Di mataku, kedekatan keduanya mirip dengan Noè dan Domi, dua saudara yang tumbuh bersama. Louis lebih banyak berinteraksi dengan Noè dan membagikan hal-hal yang dia rasakan kepada Noè, yang berarti hal-hal itu berisi ucapan-ucapan penuh kegelapan seperti kematian, kutukan, pembunuhan, eksekusi yang belum sepenuhnya bisa dicerna oleh Noè, dan sekali pun Louis banyak bercerita dengan Noè, dia tidak sepenuhnya mengekspos dirinya sendiri menjadikannya tanda tanya untuk Noè.
Ada kemiripan antara Louis dan Vanitas yang jika disandingkan akan mirip dengan pendapat bahwa Noè dan Vanitas = Noè dan Louis, jadi Noè adalah seorang gay, tapi tidak seperti itu.
Louis adalah seorang vampir bulan merah yang Nama Aslinya telah diambil oleh Naenia. Hidupnya diisolasi di kastil yang jauh dari keluarganya, keluarga de Sade sudah melupakannya dan menganggapnya tiada. Dari situ kedatangan Noè yang seorang Archiviste (klan vampir yang bisa melihat ingatan melalui darah yang dia hisap) mungkin menjadi kesempatan Louis untuk dimengerti. Dia memaksa Noè untuk meminum darahnya dan melihat ke dalam ingatannya, dengan berbagai kemungkinan akan tujuan Louis memaksa Noè melakukan itu. Bisa jadi dia hanya ingin dimengerti, ingin diingat, atau mungkin ingin berbagi cerita yang tidak bisa dia ceritakan menggunakan mulutnya. Di penghujung cerita mereka, Louis meminta Noè untuk membunuhnya, namun belum sempat Noè memahami apa yang terjadi, Louis sudah lebih dulu mati di hadapannya. Hal tersebut menyisakan trauma pada Noè yang hingga sekarang (masa di mana dia bertemu Vanitas) masih sering dihantui bayangan Louis.
Sebelas-duabelas, jika Vanitas bisa memilih caranya mati, dia ingin dibunuh oleh Noè. Di sini ada ledakan emosi yang entah apa aku sendiri juga tidak bisa menghitam-putihkannya, Noè menangis. Kenapa Noè menangis setelah Vanitas mengatakan hal tersebut?
Menyatakan ingin dibunuh oleh seseorang adalah bentuk kepercayaan. Kepercayaan adalah sesuatu yang tidak pernah didapat oleh Noè dari Vanitas di sepanjang cerita (btw ini animanga belum tamat jadi gatau endingnya bakal kea mana), namun di sini Vanitas menyerahkan akhir ceritanya kepada Noe. Tangisan Noè bisa jadi adalah bentuk "finally, war is over" tapi nyatanya perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dalam hubungannya dengan Louis, Noè dipersilakan untuk mengetahui segala sesuatu perihal Louis, namun di sini, setetes darah pun tidak diizinkan, keduanya bertolak belakang tetapi dengan permintaan yang sama.
Jika di masa lalu Noè mendapat banyak akses sebelum mentalnya siap untuk menerima kematian Louis, kali ini Noè tidak cukup mengetahui tentang Vanitas sebelum akhir itu datang. Ada kemungkinan Noè akan sangat tersiksa apabila belum sepenuhnya memahami Vanitas, tetapi dialah yang harus membunuhnya.
Paralel dalam relasi Noè-Louis dan Noè-Vanitas ini yang membuatnya tidak bisa seenak udel disebut Noè dan Vanitas = Noè dan Louis, jadi Noè adalah seorang gay. Karena dalam batin Noè yang bahkan mungkin tidak dipahami oleh dirinya sendiri, bayangan Louis masih ada dan menghantuinya, tumbuh subur sebagai trauma. Vanitas yang memiliki kemiripan dengan Louis membuat Noè mendapat dorongan untuk menebus rasa bersalahnya kepada Louis melalui Vanitas.
Jadi, perasaan Noè baik terhadap Domi, Louis, atau Vanitas, tidak dapat dengan mudahnya dilabeli sebagai perasaan romantis. Hubungan dengan label abu-abu antara Noè dan tokoh-tokoh lain dalam animanga inilah yang sangat mampu menimbulkan pertikaian antarpenggemar. Bahkan mampu membuat banyak penggemar meninggalkan fandom karena banyaknya percikan pertikaian yang mudah terbakar antarpenggemar.
Sebagai seseorang yang sangat menyukai animanga ini, aku selalu ingin membalas komentar mereka yang memaksakan pendapat bahwa Vanoè canon, Vanijeanne have np chemistry, dll. ketika bahkan hubungan Vanoè tidak pernah dihitam-putihkan oleh Mochizuki sedangkan Vanijeanne telah dikonfirmasi saling menyukai satu sama lain. Aku ingin berteriak kepada mereka, tapi jika begitu, maka aku sama saja ingin memaksakan pendapatku yang sepanjang ini kepada mereka.
Ini kali pertamaku menyukai karakter anime hingga menulis sepanjang ini untuk mengetahui bagaimana perasaan dia terhadap partner laki-lakinya, yang semakin aku melihatnya, semakin aku kehilangan queer coded seorang Noè Archiviste. Namun, itu sama sekali tidak membuatku berhenti menyukainya, karena apabila sampai akhir animanga dia tidak dihitam-putihkan oleh Mochizuki, aku akan tetap menyukainya.
Komentar
Posting Komentar