It's Not "The moon is beautiful isn't?" Anymore

Apa yang bakal lu ucapin ke cowok yang udah selingkuh tapi akhirnya ga dapet apa-apa? Ditinggal ceweknya, selingkuhannya, dan berakhir sendirian.

Itu yang terjadi pada Misugi dalam novela yang ditulis oleh Yasushi Inoue bertajuk Ryoju (1949) atau dalam Bahasa Inggris menjadi The Hunting Gun, lalu diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi Bedil Perburuan. Novela Jepang yang habis dibaca sekali duduk ini menyajikan skena perselingkuhan Misugi dalam tiga sudut pandang perempuan, istrinya, kekasih gelapnya, dan anak kekasih gelapnya. Novela ini dibagi menjadi tiga bagian; prolog yang berisi narator mengisahkan dirinya yang mendapat surat dari Misugi, bab "tiga surat panjang" yang berisi tiga surat dari ketiga perempuan yang akan mengisahkan perselingkuhannya, lalu ditutup dengan epilog. 

Di sini, aku bukannya ingin menertawakan Misugi yang setelah pengkhianatan yang dia lakukan lantas berakhir sendiri atau merutuki tingkah lakunya, melainkan untuk mengagumi bagaimana skena perselingkuhan itu ditulis sampai membuatku merasa bahwa kesengsaraan yang mereka alami tampak indah. Meromantisasi dosa, ya, setelah membaca buku ini, aku bisa memastikan bahwa tak jarang aku meromantisasi dosa terlebih jika memiliki hubungan dengan cinta.

Dosa Misugi di dalam buku ini pertama dijabarkan dari sudut pandang anak kekasih gelapnya, keponakannya sendiri. Shoko, yang seorang remaja tadinya berpikir bahwa cinta itu sesuatu yang terang dan berkilau, sesuatu yang indah. Namun, segala gambaran cinta dalam benak Shoko dihancurkan setelah mengetahui kenyataan bahwa sang ibu dan pamannya telah menumbuhnya cinta tanpa disinari cahaya, tidak terang dan berkilau. 

Saat di mana dia membaca buku harian ibunya yang dikatakan sangat kasar dan mesum tidak seperti ibu yang dia kenal, ditulis dengan sangat apik dan teramat memanjakan pembaca. Membuat ketidakpahaman yang tadinya merubungiku perlahan dilunturkan ketika menginjak surat Midori.


"Seluruhnya ibu tulis dengan amat kasar dan mesum. Kata-kata yang tak pernah kudengar dari mulutnya hingga akhir hayatnya, Kadang terdengar terlunta-lunta, tidak jarang amat berbahagia. Lain halaman dia memanjatkan doa, lalu terpekur tak berdaya, dan terkadang ingin sekali mengakhiri hidup." (Yasushi Inoue, 1949; 42)


Midori adalah istri sah Misugi, aku lupa entah bagaimana mereka bisa menikah apabila pada akhirnya Misugi jatuh cinta pada sepupu istrinya. Pada surat kedua pembaca ditunjukkan amarah dan kekecewaan serta betapa bejagulannya Midori setelah rumah tangganya terusik. Saat masih membaca surat Shoko, kukira Midori akan menjadi istri yang lemah lembut dan sangat merasa tersakiti, berdasarkan deskripsi Shoko pada suratnya mengenai sang bibi, ternyata aku sendiri terkejut saat mengetahui tingkah lakunya.

Segala tindakan bergajul dia lakukan sebagai ekspresi kemarahan dan kekecewaan terhadap sang suami. Midori dengan terang-terangan sering bermain api dengan lelaki lain, menuntut kejujuran Misugi. Baginya, jika Misugi mampu menipunya mentah-mentah, sebuah tipuan perselingkuhan yang bisa dengan mudah diketahui Midori lantas mengapa tidak langsung melakukan perselingkuhan di depan matanya. Midori dalam suratnya seakan minta dibedil berkali-kali daripada terus merasakan sakitnya rumah tangga mereka, lantas pada akhirnya dia memproses perceraian setelah kematian Saiko


"Kalau kau selalu berhasil menembak seekor ayam pegar atau perkutut dengan bedil berburumu, mengapa tidak kau tembak saja aku tepat di ulu hati? Jika kau bisa menipuku mentah-mentah, kenapa tidak kau lakukan saja dengan cara yang lebih kasar, lebih terang-terangan?" (Yasushi Inoue, 1949; 69)


Menuju klimaks, surat dari Saiko rasanya menjadi ejakulasi hebat yang datang setelah persenggamaan yang lama. Surat dari Saiko sebelum menemui ajalnya adalah sebuah mahakarya, menyimpan nada penantian, kekecewaan, kerinduan bahkan menyalahkan lelaki yang dia cintai. Segala bentuk kesedihan bersarang pada tulisan Saiko, seorang ibu tunggal yang sedang dimakan penyakitnya. Dalam detik-detik dijemput ajal pun dia sama sekali tidak hendak mengalah dengan Midori, dia tetap mencintai Misugi dalam diamnya. 

Di surat terakhir inilah pembaca diajak untuk meromantisasi dosa-dosa mereka. Ditunjukkan ledakan dahsyat sebuah kapal di tengah laut yang disaksikan Saiko dan Misugi. Dan apakah Saiko merasa iba? Oh tidak, dia merasa bahwa ledakan yang memakan banyak korban itu malah tampak indah, mengagumkan dirinya, seperti cintanya malam itu. Misugi menyatakannya perasaannya, menentang norma dan mengabaikan karma yang akan mengunjunginya lantas berkata, "Ayo, jadi pendosa saja." Damn bro it's not "The moon is beautiful isn't?" anymore. Inilah klimaksnya, inilah ejakulasi yang ditunggu dari persenggamaan yang lama dan melelahkan. Sebuah ledakan setelah surat panjang yang membingungkan, ajakan mencinta yang sangat gila, iya seperti tulisanku yang tidak nggenah ini, aku pun gila saat membacanya. 

Di sepanjang buku ini, aku benar-benar merasa diajak meromantisasi dosa. Bagaimana Yasushi Inoue menulis skena perselingkuhan dalam bukunya menjadi mahakarya yang membuat orang lupa bahwa yang mereka kagumi adalah sebuah dosa benar-benar mengagumkan.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia