"Kapan Kita Bisa Menjadi Diri Sendiri?" Tanya Ela di Tengah Kepalsuan Dunia

Menceritakan tentang hidup yang harus dijalani dengan mengenakan topeng. Orang yang hidup dengan bertelanjang muka akan dilirik aneh oleh mereka yang mengenakan topeng, itulah Ela. Sang tokoh utama yang senantiasa bertanya, kenapa harus melakukan ini dan kenapa harus melakukan itu apabila kita bisa hidup dengan bebas, pada guru ngajinya. Lantas pada akhirnya, Ela sendiri menjadi bagian dari masyarakat, ikut serta mengenakan topeng kehidupan.

Leila mengangkat fakta pahit bahwa dalam masyarakat kita sering tidak dapat menjadi diri sendiri. Apabila tidak menyamai mayoritas, maka kau akan dikucilkan, ditatap dengan tatapan seakan kau adalah benda yang lebih menjijikkan daripada tahi. 

Fakta pahit yang terpampang jelas, tapi jarang kita sadari itu ditulis dengan gaya bahasa yang apik. Leila pada cerpen TK seakan berusaha mencerminkan fenomena yang belakangan seringkali terjadi, yakni Fear Of Missing Out, atau lebih dikenal dengan singkatan FOMO. Sebuah perasaan takut ketinggalan sesuatu yang sedang marak digandrungi masyarakat. Hal itu seakan membuat mereka yang tidak mengikuti apa yang sedang marak digandrungi tampak kuno atau aneh.

Cerpen ini secara tersirat juga menunjukkan bagaimana masyarakat seringkali tidak mampu menghargai perbedaan. Selera musik yang berbeda, pandangan atau pendapat yang berbeda, gaya berpakaian yang berbeda, tata rias yang berbeda, atau kegemaran yang jarang digemari banyak orang, dilirik sebagai sesuatu yang aneh dan menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan tak jarang pula mereka yang berani menunjukkan dirinya sendiri dilabeli pick me, dibuli, atau dikucilkan, yang menyebabkan mereka tak berani menunjukkan diri mereka sendiri dan mengikuti masyarakat mengenakan topeng kehidupan, seperti Ela pada cerpen ini.

Pada cerpen ini, Leila dengan gaya bahasanya yang tak jarang membuat saya pribadi bingung saat membacanya berhasil menyampaikan isu sosial yang ada dengan mudah dipahami, namun tak meninggalkan estetikanya. Metafora topeng sebagai sesuatu yang senantiasa dikenakan masyarakat juga menjadikan cerpen ini lebih mudah dicerna maknanya.

Resensi Cerpen TK Karya Leila S. Chudori dalam Buku Antologi Cerpen MALAM TERAKHIR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia