Kejahatan dan Hukuman
Aku selalu ingin membunuh orang-orang yang membuatku takut.
Namun, keinginan itu senantiasa padam ketika ingatanku memutar betapa dalam derita Raskolnikov setelah membunuh orang yang menghutanginya sejumlah uang. Aku sangat tidak ingin merasakan penderitaan itu, penyesalan setelah membunuh manusia.
Terbayang di benakku bagaimana rasa bersalah itu berubah menjadi wajah orang yang kubunuh dan muncul di mimpiku setiap malam. Menjadi teror tak berujung yang begitu menakutkan. Bahkan jauh lebih menakutkan daripada saat orang itu masih hidup, karena setelah membunuhnya rasa kemanusiaanmu ternoda. Kau yang senantiasa vokal terhadap kemanusiaan telah menjadi bagian dari noda kemanusiaan. Perasaan mengerikan itu berkali-kali lipat lebih menakutkan daripada mendekam di penjara. Pengucilan dari masyarakat sebagai akibat dari pembunuhan yang telah kau lakukan juga akan sangat menakutkan.
Terlebih aku selalu mengingat bahwa membuat seseorang mati itu justru menghadiahi orang yang aku takuti tersebut dengan kebahagiaan, karena orang itu telah lepas dari kehidupan, telah mati. Peduli setan pada apa yang terjadi padanya setelah kematian, apakah disiksa atau ditimang-timang itu urusannya, yang pasti segala urusannya dengan dunia kelar. Orang yang kubunuh akan terlepas dari jeratan kesengsaraan yang dihidangkan dalam berbagai rasa di dunia ini. Sementara aku yang masih hidup, senantiasa dihantui penyesalan. Orang yang kubunuh pasti akan menertawakan, mungkin malaikat akan sakit kuping saking kencangnya tawa yang keluar dari mulut orang yang kubunuh.
Semua itu tidak sepadan.
Komentar
Posting Komentar