Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Biarkan Milikmu Tetap Menjadi Milikmu

Konyol rasanya manusia yang belum genap berusia 17 tahun ini berbicara tentang bagaimana perasaan romantis kepada manusia lain sangat berpengaruh pada jalannya keseharian. Saat itu aku kelas 8 SMP ketika sadar bahwa ada perasaan mengerikan mengendap diam-diam dalam hati yang lambat laun menghancurkan kewarasanku sendiri.  Saat itu aku perlu waktu untuk mencerna hal salah yang terjadi pada diriku, perlu waktu untuk menerima dan mengakuinya. Setelah mengakuinya apakah aku merasa lega? Tidak, tidak serta-merta aku merasa lega karena pengakuan itu terasa seperti kesimpulan yang diambil tergesa-gesa, seperti tidak akan ada kesempatan bagiku di lain waktu apabila saat itu, saat kami duduk di depan tangga dekat koperasi sekolah, aku tidak segera menyatakan hal ini padanya.  Tapi apakah aku menyesal? Tidak, bahkan tidak ada penyesalan sedikit pun pasca pengakuan, seakan-akan aku percaya bahwa dia akan mengerti dan kami akan tetap bersama.  Setelah semua itu, banyak waktu yang kam...

Inggih Tapi Tidak Ditenani

Dari kecil aku diajari untuk tidak menolak tawaran orang lain dengan kata "mboten" alias tidak, katanya itu tidak sopan, terlalu kasar. Biasanya saat ditawari seseorang untuk mampir atau diberi sebuah makanan atau tawaran jenis apa pun dan aku tidak segera membalas, nenekku akan mewakiliku mengucap "inggih" , yang sebenarnya itu dilakukan untuk membiasakan diriku agar mengucapkannya saat hendak menolak tawaran seseorang, lalu pergi begitu saja. Jadi maksud dari kata inggih alias iya itu tadi merupakan sebuah penolakan yang halus. Sudah sejak kecil aku diajari begitu tapi jika ditawari masih saja nenekku yang mewakili hingga detik ini di usiaku sekarang, karena menjawab iya untuk sesuatu yang tidak kau inginkan karena tidak sopan bila menjawab tidak itu terasa aneh. Basa-basi, itu dia yang paling berperan dalam inggih tapi ndak ditenani , karena bisa saja sebenarnya seseorang yang menawari sesuatu tidak benar-benar ingin menawari itu, hanya basa-basi saja agar tamp...

Kali ini Aku Tidak Bisa Menerima Diriku yang "Berbeda"

Gambar
Rasa rikuh menyambutku saat pertama kali menginjakkan kaki di SLBN Panggungsari. Jarang sekali aku merasa secanggung itu berada di tempat baru, seringnya aku selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja aku akan mendapat teman di mana pun aku berada. Banyak teman yang ikut, pastinya aku tidak sendiri karena kegiatannya diikuti oleh beberapa siswa-siswi lain dari sekolahku. Namun apa yang kurasakan mungkin tidak atau mungkin juga dirasakan oleh yang lain, sejauh ini aku baru bercerita pada satu orang. Sudah tiga hari berlalu sejak aku datang ke sekolah luar biasa itu, masih segar di ingatan bagaimana aku berjalan masuk melalui gerbang sekolah itu, rasanya seperti berbeda . Jika di masyarakat, anak-anak berkebutuhan khusus itu yang berbeda, di sini, aku yang merasa berbeda. Perasaan berbeda yang ada pada diriku saat memasuki sekolah itu tidak berdiri sendiri dalam batinku, rasa bersalah dan berdosa juga bersanding dengan rasa berbeda itu. Aku bersama banyak teman yang sama denganku, ...