Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Bukan Hanya Posisi Duduk yang Menyebabkan Punggung Membungkuk

 Acapkali aku ingin lari dari segala hal yang harus kupertanggungjawabkan. Kata lari sudah berulang kali berputar di kepala. Keinginan untuk menjauh dari semua masalah yang sebenarnya tidak begitu besar bagi orang lain selalu saja menyapaku. Namun, di sana aku akan merasa malu, merasa ditimbun dosa, dan sangat tidak terhormat apabila lari dari sesuatu yang sepatutnya kuhadapi.  Terkadang ketika mengalami suatu masalah, dan aku harus mengambil peran untuk ikut menyelesaikannya, aku ingin pergi dari tempat itu. Namun, dengan segala ketakutan masih saja aku melewatinya. Aku akan merasa ditimpa batu jika mengiyakan keinginanku untuk lari dari semua masalah itu. Dengan peran yang di sepanjang hidup senantiasa aku hindari, aku merasa ditimpuk tanggung jawab.  Tak jarang penyesalan karena telah melanggar janji kepada diriku sendiri untuk tidak menyentuh peran itu datang bersama seluruh kepengecutanku. Lantas apa yang bisa kulakukan, penyesalan juga bukan hal yang menakjubkan, se...

Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Minggu ini jadwalku padat sekali, banyak kegiatan-kegiatan di luar kegiatan akademik yang muncul satu-persatu. Di awal minggu aku menyiapkan reorganisasi dan mendapat tanggung jawab baru di organisasi tersebut. Lalu diajak untuk mengikuti bedah buku bersama mas Agus Mulyadi dan DeLiang Al-Farabi . Jumat kemarin aku makan-makan bersama satu kelas, pulang larut lantas tidur larut pula. Aku sangat bersemangat untuk mengikuti bedah buku, kumpul bersama kawan-kawanku tidak terlalu membuatku excited karena biasanya aku tidak merasakan kesenangan yang sesungguhnya saat beramai-ramai. Namun, aku tetap menikmatinya, karena itulah aku mulai menerka, bagaimana jika aku mati hari ini? Kematian itu sangat dekat. Bisa kapan saja dan di mana saja. Aku mulai dihantui oleh kata mati setelah salah satu kawanku keesokan harinya mati padahal malamnya dia masih mengobrol denganku. Dalam setiap sujud aku berdoa untuk umur panjang sekalipun di hadapan manusia aku biasa saja dengan kata mati. Terkadang rasa...

Membunuh Pembunuh Tidak Mengurangi Jumlah Pembunuh di Dunia

Membunuh pembunuh tidak mengurangi jumlah pembunuh di dunia,  itu karena kita sama saja dengan pembunuh itu sendiri. Beberapa waktu yang lalu, di tengah hiruk-pikuk Indonesia, aku membaca kalimat itu entah di akun siapa, yang pasti di sosial media. Kalimat itu terlintas di pikiranku ketika menyadari kawan-kawan sekelasku mulai menunjukkan aksi pembullyan terhadap salah satu dari kami. Di tempat baruku ini, ada satu siswi yang hampir tidak pernah tampak betah berada di kelas ketika jam kosong. Terlebih ketika bulan Agustus ini kami disibukkan dengan banyak kegiatan dan guru jarang masuk kelas. Aku hampir tidak pernah berbicara dengannya, tahu hal-hal perihal siswi itu pun dari kawanku yang lain. Kupikir tadinya dia sekadar pendiam saja, nomorku pun dia dulu yang menyimpannya, jadi kukira hanya perlu waktu sampai kami bisa menjadi akrab. Namun, semua tidak sesederhana itu. Aku sadar semua tidak sesederhana itu saat kawan-kawanku mulai menertawainya tanpa sebab yang jelas. Lalu k...